Soto khas Lamongan Pak Djayus

To...soto... begitulah nyanyinya,suoro logat madura sering terdengar dikampung n komplek perumahan Suroboyo,nyanyian itu akan terdengar merdu nek weteng kruyukan,he-he dino iki sedurung puoso awak dewe lagi ngupas tentang soto Lamongan,ngene lho critane rek.


Orang Madura biasa menjual soto daging. Orang Lamongan biasa menjual soto ayam. Apa jadinya jika orang Madura menjual soto Lamongan. Enak kah?

SELAIN soto Madura, di Surabaya cukup terkenal dengan menu soto lain yang bernama soto Lamongan. Secara keseluruhan antara keduanya ada perbedaan, baik dilihat dari karakter bahan, tampilan dan juga daerah asal. Pembeda paling kentara, soto Madura terkenal dengan soto berlauk daging (sapi) sedangkan soto Lamongan menggunakan lauk ayam.

Di Surabaya dan mungkin di daerah lain, penjual soto daging (sapi) mayoritas berasal dari keturunan Madura, sementara kota Lamongan terkenal sebagai daerah asal penjual soto ayam. Jarang sekali mereka yang berasal dari Madura menjajakan soto khas Lamongan atau sebaliknya.

Performa hidangan soto Pak Djayus saat berpartisipasi dalam Festival Jajanan Bango 2008 di Lapangan Makodam Brawijaya Surabaya, Mei (2008) lalu.

Namun ‘tradisi’ itu tidak sepenuhnya benar, ada beberapa penjual makanan berbasis soto mendobrak paradigma itu. Bila Anda berkunjung ke Festival Jajanan Bango 2008 di Surabaya lalu atau sebelumnya sudah mengenal Soto Pak Djayus, maka sang penjual adalah salah satu orang yang mendobrak ‘tradisi’ tersebut.

Ketika ditemui di ajang kuliner bergengsi itu, Abdul Mu’in membenarkan jika Pak Djayus yang tak lain adalah orang tua-nya adalah penjual soto ayam yang bukan ‘berdarah’ Lamongan, melainkan keturunan asli Madura. Tapi, alasan itu tidak lantas mengurangi kenikmatan sajian Soto Pak Djayus yang sudah telanjur kondang di kota Pahlawan ini.

Jika ada yang meminta daftar penjual soto enak di Surabaya, bisa jadi Soto Pak Djayus bisa tercatat sejajar dengan warung Soto Pak Sadi (Ambengan), Soto Cak Riban (Genteng), dan Soto Gubeng Pojok (Gubeng). Karena pengalaman sebagai penjual soto ayam yang sudah dirintisnya sejak 1984 silam, Soto Pak Djayus cukup populis di telinga warga Surabaya, khususnya yang doyan dengan makanan berkuah warna kuning ini.

Ganti Bandeng dengan Udang
Selain lontong balap, pecel semanggi, dan nasi bebek, Surabaya juga terkenal dengan makanan berkuah kuning bernama soto. Seperti makanan khas lainnya, soto mudah sekali ditemui di pelosok kota. Salah satu yang terkenal di Surabaya adalah Soto Pak Djayus di Jl. Manyar (depan Kebon Bibit). Menurut Mu’in, Soto Pak Djayus biasa menyajikan soto ayam dengan soun, dan potongan telur ayam rebus.

Abdul Mu’in bersama istri melestarikan warisan resep soto Pak Djayus, ayahnya.

“Untuk lauknya kami menggunakan potongan ayam kampung. Kami tidak berani menggunakan ayam potong biasa (boiler) karena akan mengurangi kemantapan soto itu sendiri. Ayam kampung sudah menjadi pilihan sejak bapak (Pak Djayus) buka hingga saya teruskan sekarang ini,” katanya di sela-sela menyajikan hidangan untuk tim Food & Resto dan VENUS.

Bumbu yang digunakan sebagai racikan Soto Pak Djayus tergolong biasa, sama seperti soto Lamongan lainnya. Kemiri, bawang putih, dan bumbu dapur yang wajib ada dalam pembuatan kuah soto. Namun ada satu yang menjadi rahasia kesedapan warung soto yang sudah buka cabang di Jl. Tenggilis dan kawasan Rungkut itu, yaitu mengganti olahan bahan penyedap kuah yang kebanyakan pedagang menggunakan ikan Bandeng dengan bahan udang.

Menurut Mu’in, “Kekuatan rasa kami terletak pada penggunaan bahan penyedap alami itu. Sementara kalau penyajiannya tetap sama dengan soto Lamongan kebanyakan.” Soto Pak Djayus terdiri dari nasi, kecambah, bawang merah goreng, seledri, dan ayam kampung yang telah digoreng dan dipotong mini. Tentunya tidak lupa disertai taburan kerupuk udang yang sudah dihaluskan atau yang biasa disebut poyah (koya). Pingin tambahan lauk bisa memilih hidangan lain di antaranya sate yang dibuat dari potongan kulit ayam, jeroan, telur muda, atau brutu (ekor). Bila ingin tambah nikmat, pengunjung bisa menambahkan kecap manis atau kecap asin yang sudah disediakan bersanding sambal. Huh, puas bersantap, pengunjung bisa memesan minum es degan (kelapa muda) untuk menambah kesegaran.

Satu porsi Soto Pak Djayus dijual seharga Rp.8.000. Jika ingin menambah sate jeroan, es degan, atau kerupuk udang, maka akan dikenakan harga tambahan. Tapi, bila ingin menambah poyah, pembeli bisa mendapatkannya secara gratis. *







Artikel yang Berhubungan



Terbangunya Tali Silaturahmi yang kokoh selalu didasari dengan komunikasi dan informasi yang selalu Lancar dan TERBARU jika setuju masukan email Konco disini:


Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

4 comments:

Anonymous said...

Hmmm tuap muantap rek ,dadi kangen suroboyo awak dewe iki,suwun mod info2 kulinere apalagi sebelum puoso...

Budi 98

Haryono 87 said...

Ngawur ae arek iki, saiki lho blog e kaet tak buka wis poso, malah diiming-imingi soto, ganti topik reek...

Isnaini said...

Pancene wong Jawa Timur iku paling pinter gawe panganan enak. Wis Ta Lah gak onok sing iso ngalahno masakane wong Jawa Timur.

Jumput said...

hmmm... ket aku metu teko Suroboyo... isoku mek ngiler nek ngelingi cuisine Suroboyo... angel nek ning Jakarta... adoh karo durung karuan pas rasane karo memory lidah :D

paling nek pas mulih .... waaaaahhh panganan omah gak payu... lah mangan njobo terus... :D

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Post a Comment

 

©Copyright 2008 Blog Ikasmanca|powered by Blogger.com|o-om|Peluang Usaha